Sunday, August 21, 2016

#KonserTerbaikGue - Story of the Year

Story of the Year

Setelah mengisi perut dengan beef kebab dan chicken steak khas Doner Kebab di Plaza Senayan, pukul delapan tepat gue dan teman SMP gue Zaldy tiba di Gelora Bung Karno. Kami yang belum tahu pasti di mana Plaza Selatan Senayan GBK itu berada memutuskan untuk masuk dari Pintu Satu. Dentuman bas drum yang dipukul dengan dobel pedal sudah terdengar dari sana, yang artinya ada acara band-band-an tak jauh dari situ.

“Mas, konser Story of the Year di Plaza Selatan Senayan tuh di mana?” tanya Zaldy sedikit berteriak ke abang penjaga pos masuk GBK, berusaha mengalahkan suara distorsi gitar yang meraung-raung.

“Di sini, Mas! Itu panggungnya!” jawab si abang juga berteriak, sambil menunjuk ke arah panggung yang lampunya gemerlapan di balik kain hitam yang melapisi pagar. Rupanya dugaan kami benar.

#KonserTerbaikGue - Java Rockin' Land 2011: Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Bersakit-sakit Dahulu
The Changcuters

Ini adalah cerita lima tahun silam. Tahun 2011, alhamdulillah gue dapat rejeki diajak nonton dan ngeliput Java Rockin' Land. Pada masa itu, JRL adalah festival rock terbesar se-Asia Tenggara yang cuma terjadi satu tahun sekali. Jadi ngeliputnya pun no funny business. Gue dan partner liputan gue harus bikin strategi: dalam hal ini adalah untuk menaklukkan liputan 15 musisi mancanegara dan 104 band Indonesia di 10 panggung selama 3 hari di venue seluas berhektar-hektar~ pertama-tama kita harus milih mau ngeliput apa aja.

Idealnya, satu media nugasin sepasang fotografer dan reporter di setiap panggung atau minimal sebanyak penampilan yang pengen diliput tapi waktunya bentrok. Contohnya gini: di hari pertama, Changcuters, Naif, sama Loudness mainnya barengan di tiga panggung berbeda. Berarti, si media harus menerjunkan minimal tiga pasang fotografer dan reporter biar tiga yang band keren yang mainnya barengan itu bisa diliput semua.


Potongan jadwal JRL 2011

Masalahnya, karena berbagai keterbatasan, media gak bisa menerjunkan duet maut fotografer dan reporter sebanyak itu. Jadi kita harus memilih siapa yang mau diliput, which is not that easy karena juga harus mempertimbangkan siapa yang main sebelum atau sesudahnya, dan seberapa penting mereka buat diliput.

Contohnya masih sama: Changcuters - Naif - Loudness. Waktu itu, buat gue dan partner, Loudness adalah yang least appealing--berarti tinggal Naif dan Changcuters. Trus kita liat dong siapa yang main abis mereka: 30 Seconds to Mars. Mereka lagi hits banget pada masa itu dan penting banget buat diliput melebihi siapapun. Jadwal selesainya Changcuters mepet sama jadwal mulainya 30STM, dan Naif bahkan belum selesai pas Abang Jared mulai main. Dan semua orang, siapapun artisnya, pasti udah siap-siap di depan panggung dari beberapa waktu sebelumnya biar dapet di depan, deket sama panggung. Pas 30STM kemarin orang-orang udah pada ngetem dari jam 23, padahal jadwal manggungnya jam 00:45. Artinya, kalau mau dapet depan juga, gue dan partner harus ngetem juga, yang artinya juga, gak bisa nonton--eh, ngeliput--Changcuters sama Naif sama sekali :((

Pusing? You bet. Tapi akhirnya gue dan partner kemarin tetap menyambangi Tebs Stage kok buat liat Changcuters. Gak ngeliput, cuma moto doang. Kasian sebenernya sama band-band keren Tanah Air yang main sebelum musisi raksasa kayak Changcuters dan Naif yang main sebelum 30STM. Jadi gak ada yang nonton :( Makanya gue bisa moto dengan cukup baik dan benar karena lowong banget tempatnya.

Nah, kalau udah milih mau ngeliput siapa aja, kita harus mempelajari musisi yang mau diliput itu--sesuatu yang kurang gue lakukan kemarin. Mulai dari sejarahnya, udah punya berapa album, lagu yang ngetop apa aja, dan biasain kuping dengerin lagu-lagunya. Ini gunanya buat pronoun pas nulis laporannya. Yang gak kalah penting, seberapa besar kesempatan kita bisa ngeliput mereka lagi. Contoh: abis JRL selesai, gue baru tahu Loudness ternyata legend heavy metal dari Jepang dari tahun 1981 dan harusnya ngeliput mereka jadi prioritas karena kesempatan bisa ketemu mereka kagi jauh lebih kecil dari ketemu Naif sama Changcuters.

Kalau tugasnya moto, harus nonton dulu video aksi bandnya dan foto-foto panggung mereka sebelumnya, buat tau karakter mereka kayak apa. Ini penting buat ngatur strategi motonya. Contoh: di panggung, Changcuters kan lebih pecicilan dari Sheila on 7, jadi kalo pengen bikin fotonya Changcuters ngefreeze, shutternya harus dicepetin, lebih cepet dari kalo moto Sheila on 7. Terus harus belajar juga kebiasaan vokalis megang mic pake tangan kiri apa kanan; lalu blocking personel-personel band-nya di panggung, biar tahu harus berdiri di sebelah mana pas lagi bagian lagu apa buat moto siapa lagi ngapain sesuai yang diinginkan.

Balada Foto JRL - Sebuah Curahan Hati

Moto JRL itu s u s a h, setidaknya buat gue. Ini gak bermaksud ngeluh loh ya. Ini adalah bagian dari pertimbangan cost-benefit: kebanyakan panggung JRL pitnya gak bisa diakses media, kalaupun bisa paling cuma dikasih dua-tiga lagu. Contohnya: pas Cranberries, media boleh masuk ke pit tapi cuma dua lagu pertama. Setelah dua lagu pertama selesai, mau tak mau para fotografer yang barusan ngepit menonton sisa pertunjukan dari paling belakang karena depan-depan udah rapet banget dipadati gerombolan ABG dan hot mama.


Waktu itu gue dan partner liputan gue mikir, pilih mana: masuk media pit = moto dengan sejahtera tapi cuma dua lagu pertama trus nonton the rest of the show dari paling belakang; atau gak masuk media pit = ngetem di depan panggung dari satu jam sebelumnya, berdiri di depan sepanjang pertunjukan, dan bisa moto juga tapi motonya gak sejahtera? Akhirnya kami memilih yang kedua, dan moto Mbak Dolores dari kerumunan penonton--well, yang moto partner gue sih bukan gue hehe.
  

Beruntung bukan gue yang bertugas moto, karena jujur gue adalah jago kandang, literally--kandang media pit. Gak ngepit = gak berdaya. Soalnya, dibandingin sama kebanyakan cewek seumuran, gue ini kayak Frodo dibandingin sama Legolas: kecil banget. Dengan eye-level lebih rendah dari 1.5m, gue gak bisa moto apa-apa begitu ada orang berdiri di depan gue. Mau ngidupin LCD trus kameranya diangkat setinggi-tingginya kayak moto pake kamera hape juga masih ketutupan kepala orang depannya. Sedih memang, pengen nangis kadang-kadang.

JRL juga sebenarnya agak membangkitkan memori masa-masa kelam dalam sejarah perfotopanggungan gue. Gak bisa masuk pit = berdiri di lautan massa. Rasanya kayak deja vu. Gue jadi inget pas dulu kuliah di Jogja. Jamannya (berusaha) moto konser Outloud di Stadion Mandala Krida ditemenin temen-temen kos gue... Jamannya (berusaha) moto The Virgin dan J-Rock di Stadion Kridosono sendirian... Boro-boro mau moto, ngeluarin kamera dari tasnya aja gak bisa gara-gara kegencet kimcil-kimcil J-Rockstar. Sekalinya bisa ngeluarin kamera dan mulai ngeker, langsung kealangan kepala atau punggung orang depannya. Dipikir-pikir lagi sekarang, syukur banget dulu kayak gitu gak pake kecopetan.

Venue JRL - Pantai Carnaval Ancol, Jakarta

Last but not least, baik ngeliput maupun niket, atau jadi volunteer atau apapun, kita harus banget melenggang ke JRL dengan kondisi kaki yang prima. Soalnya venue JRL itu GEDE BANGET. Mungkin kalo diitung, jarak tempuh kaki jalan-jalan dari panggung ke panggung selama tiga hari, ada kali belasan kilometer. Kalo kemarin gue hari pertama masih joss banget, semangat '45. Hari kedua dan ketiga kebanyakan duduknya hahaha.

Bersenang-senang Kemudian
The Changcuters

Sebelum ngeliput JRL, gue sempat ngeliput sebuah pagelaran orkestra di Jogja. Di pagelaran orkestra itu, gue liputan solo untuk pertama kalinya: moto dan nulis, dan itulah pertama kalinya gue nulis liputan *koprol* *self applause*. Tulisan (pertama) gue ini bebas merdeka, gak ada pakemnya, gak pake diedit bapak ibu editor yang terhormat. Senang. Ini linknya.

Nah, karena partner liputan JRL gue adalah seorang fotografer profesional, maka partner gue lah yang bertugas moto dan akibatnya, gue yang bertugas nulis. Dan ini adalah pertama kalinya gue asli bertugas nulis dan tulisannya diedit orang.

Tulisan diedit editor itu sungguh sensasional. Rasanya antara takut, sedih, dan senang: takut kelihatan tolol karena tulisannya kurang berisi atau salah-salah struktur kalimat; sedih karena kadang-kadang tulisannya jadi gak-gue-banget; tapi senang luar biasa karena biasanya tulisannya jadi lebih bagus!!! Akhirnya, setelah bertapa berjam-jam dan dikejar-kejar deadline, jadilah lima liputan ini:

Sheila on 7, hari pertama di Simpati Stage jam 19:15
30 Seconds to Mars, hari pertama di GG InterMusic Stage jam 00:45

Godbless, hari kedua di GG InterMusic Stage jam 18:00 The Cranberries, hari kedua di GG InterMusic Stage jam 23:00
Helloween, hari ketiga di GG InterMusic Stage jam 21:45


It's not much, but it's a start. Dari lima tulisan itu, empat diedit. Yang paling parah editannya adalah Sheila on 7. Itu kayak bukan tulisan gue!!! Sedangkan yang gak diedit sama sekali: Cranberries.

Pas JRL 2011, gue baru lulus sarjana dan resmi berkontribusi pada angka pengangguran negara. Saat itu, sepanjang hidup gue masih dibiayai orang tua. Jadi gue belum pernah nonton konser yang mahal-mahal gini karena gak mungkin gue dibayarin nonton konser yang notabene bukan kebutuhan pokok. Akibatnya, JRL 2011 adalah festival rock internasional pertama gue.

Dengan kondisi gue yang seperti itu, gue sangat terpukau oleh kenyataan bahwa orang-orang yang masuk JRL niket itu bayar rata-rata Rp300.000,-an loh per hari. Artinya, mereka adalah orang-orang kaya, atau minimal anak orang kaya. Tapi mau kaya kayak apa juga, when it comes to festivals, tetep aja mereka berdesak-desakan, jotos kiri-kanan, dan bercucuran keringat. Mbak-mbak cantik yang pakai hot pants dan atasan you-can-see harus rela kulit halusnya bersenggolan dengan kulit orang lain yang plicket. Rambut mereka yang panjang nan indah bak bintang iklan sampo pun jadi berantakan dan mencuat sana-sini.

Jadi kayak di hadapan Tuhan, di hadapan panggung festival semua orang juga sama--mulai dari yang jutawan yang masuknya niket Rp 300.000,-an per hari sampai yang jurnalis yang masuknya gratis pakai ID "PRESS"--semuanya jadi jelek! Hahahahaha~


Sebelum JRL, selain karena belum mampu, gue gak pernah mau tuh nonton konser yang harga tiketnya ratusan ribu apalagi jutaan kalau bayar sendiri. Gue pikir gak worth. Tapi setelah ngerasain JRL, I take back what I said.

Menurut gue, buat semua orang yang suka musik, atau artisnya, atau bahkan hingar bingarnya, main ke JRL itu adalah liburan. Sama kayak orang yang seneng traveling mengisi liburannya dengan jalan-jalan: sama-sama mikirin budget (nabung dulu buat beli tiket JRL = nabung buat beli tiket pesawat/kereta/bis/kapal dll.), sama-sama bikin itinerary (bikin jadwal mau nonton siapa di panggung apa jam berapa = mau datengin tempat apa kapan), dan pastinya sama-sama bikin kaki gempor (tapi kayaknya JRL lebih bikin kaki gempor sih hahaha).

Kalo baca cerita gue kedengarannya nyusahin amat JRL yak? Kalau ribet banget ngapain dilakuin yak? Let alone jadi #KonserTerbaikGue, hahahahaha. Tapi kan judulnya emang Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian. Dan jangan salah, pengalaman tak terlupakan kan gak melulu yang nyaman, manis, dan indah.... Bisa juga pengalaman yang penuh pelajaran, pesan moral, dan excitementKalau kata pepatah, there's always a first time for everything. Di JRL 2011, gue ngalamin banyak first times yang SERU BANGET. Gue juga belajar b a n y a k  b a n g e t.

Pas dijalanin, JRL emang sangat melelahkan. Tapi pas udahannya, JRL jadi kisah, yang akan selalu bikin gue tersenyum ketika gue menoleh ke belakang, dan masih bisa diceritakan gak cuma lima tahun kemudian, tapi sampai kapanpun.

Dan itu semua, bikin JRL 2011 sampai hari ini adalah #KonserTerbaikGue.